Mengenal Gelar Akademis Dan Gelar Non Akademis

Mengenal Gelar Akademis Dan Gelar Non Akademis

Duh, tetangga sebelah lagi pada ribut tentang gelar non-akademis. Udah kaya Rhoma Irama aja yang gelar nya dipertanyakan... 

Bagi yang belum tau, secara garis besar (dalam kaitannya dengan pendidikan) gelar terbagi menjadi dua macam, gelar Akademis dan gelar NON akademis. 
Gelar akademis adalah gelar yang di peroleh dari suatu akademi. Lebih spesifiknya lagi, gelar akademis adalah gelar yang diperoleh dari akademi seperti universitas (yang telah di akui oleh negara). Sedangkan gelar non akademis adalah gelar yang diperoleh bukan dari akademis (baca:universitas).

Contoh dari gelar akademis (di Indonesia) biasanya di awali dengan kata Ahli Madya (Amd.), Sarjana (S.), Magister (M.), Doktor (DR.), dan Professor (Prof.). Sedangkan gelar non akademis biasanya di awali dengan kata Certified (sertifikasi/bersertifikat).

Jadi bagi anda yang pernah melihat orang dengan gelar panjang / banyak, jangan langsung terpukau dulu. Kalau hanya gelar non akademis, andapun dapat mendapatkannya dengan mudah.

Seperti salah satu tayangan di acara Hitam Putih yang menampilkan orang dengan belasan gelar. Bagi orang lain mungkin itu suatu hal yang menakjubkan, tapi bagi saya itu biasa saja. Bahkan saya rasa orang tersebut adalah orang bodoh. Pertama karena dia bangga 'show off' gelar nya yang padahal kebanyakan adalah gelar non akademis. Kedua pada akhirnya dia hanya menjadi orang biasa-biasa saja walau gelarnya banyak. Ini ibarat dukun yang ngaku punya banyak kehebatan dan bisa melipat gandakan uang, tapi finansialnya biasa-biasa aja.

Berbeda dengan gelar akademis yang didapatkan dengan cara mengikuti pendidikan sampai bertahun-tahun dan tugas akhir yang tidak mudah. Untuk mendapatkan gelar non akademis, anda hanya perlu mengikuti sebuah pelatihan beberapa jam saja (namun ada juga yang sampai bulanan). Jika anda punya uang, punya waktu, anda tinggal daftar dan menghadiri pelatihan tersebut saja, maka anda punya gelar baru di belakang nama anda.


Namun sama halnya saat seseorang bekerja dan dipertanyakan mengenai skill dari gelar yang dia punya, begitu juga dengan gelar non akademis. Saat anda berani menunjukkan gelar non akademis yang anda punya, maka anda pun harus siap di 'test' mengenai skill dari gelar yang anda punya.

Ingat, untuk memiliki gelar, anda harus di didik mengenai mekanisme dari ilmu yang gelarnya akan anda miliki. Jadi bukan sekedar bisa saja. Ibaratnya, seorang Sarjana Komputer bukan hanya bisa mengoperasikan komputer saja, tapi dia juga tau mekanisme proses berjalannya komputer dari mati - menyala - sampai mati lagi. Belum lagi harus mengetahui pengetahuan mengenai keilmuan komputer lainnya.
Berbeda jika anda hanya 'ngaku-ngaku' saja atau gelar anda palsu. Mungkin anda bisa dan tau mengenai ilmu dari gelar tersebut. Tapi dapat dipastikan anda tidak tahu mekanisme mengenai ilmu tersebut, pengetahuan anda hanya sedikit, dan anda belum paham mengenai ilmu tersebut.

Jika anda pernah mendengar ada orang yang memalsukan ijasah gelar dari universitas, untuk gelar non akademis pun ada yang melakukannya.
Kalau gelar dari universitas jelas susah untuk mendapatkannya (secara legal). Tapi untuk gelar non akademis yang cara mendapatkannya mudah saja masih ada orang yang ingin memalsukannya, bahkan menjualnya...

Bagaimana pun juga, gelar memang hanya sebagai hiasan saja. Ya hiasan bagi anda yang tidak tahu perjuangan untuk mendapatkannya.
Kalau hanya hiasan, berarti ngga penting dong. Karena ngga pentingting, berarti ngga usah di pajang dong gelarnya.
Apalagi gelar palsu....


Gelar, terutama gelar buatan sendiri maupun gelar bajakan, ok ok saja jika di pakai. Toh tanggung jawab juga ada pada pemajang gelar tersebut. Namun lain halnya jika gelar tersebut sudah mulai diperjual belikan. Terlebih lagi jika pembeli gelar tidak tahu bahwa gelar yang dia beli merupakan gelar yang tidak diakui.

Bisa saja anda membuat gelar sendiri dari universitas sendiri. Tidak ada masalah. Tidak ada yang dirugikan. Namun gelar tersebut akan bermasalah jika gelar tersebut digunakan untuk proses legalisasi. Misal anda ingin bekerja, perusahaan yang mempekerjakan anda pasti akan menolak anda karena gelar anda tidak legal. Atau anda akan membuka usaha sendiri dengan dasar gelar tersebut, PASTI anda akan ditolak oleh dinas terkait karena gelar anda tidak diakui atau ilegal. Masih mending jika hanya ditolak, kalau malah dilaporkan ke yang berwajib karena pemalsuan identitas, lain lagi ceritanya.


Kalau buatan sendiri dan dipakai sendiri, sudah pasti tau batasan penggunaannya. Tapi bagaimana jika gelar buatan sendiri tersebut diperjual belikan? Saat sang pembeli tersangkut masalah karena gelar tersebut, yang dia yakini adalah gelar legal karena sang penjual tidak memberitahu bahwa gelar tersebut hanya gelar buatan sendiri, sang penjual selain bisa dipidanakan karena pembuatan identitas palsu, sang penjual juga bisa dipidanakan dengan tuduhan penipuan.


Sekali lagi, gelar bukan hanya urusan keren-kerenan saja. Bukan hanya sekedar bisa. Tetapi itu adalah sebuah pengakuan yang harus bisa anda pertanggungjawabkan keilmuannya.


Sebagai 'pembeli' gelarpun, anda harus jeli mengenai gelar yang anda beli maupun kredibilias sang penjual gelar. Jangan sampai anda jadi korban penipuan sang penipu